DEWACUAN Bukanlah Strategi, Melainkan Sebuah Kultus Kerja yang Beracun

DEWACUAN, yang kerap dibungkus dalam jargon “Disiplin, Etos Kerja, Wawasan, Cerdas, Ulet, Amanah, dan Niat,” bukanlah filosofi produktivitas yang mulia. Ini adalah sistem kontrol yang dirancang untuk mengeksploitasi tenaga kerja dengan mengaburkan batas antara dedikasi dan perbudakan upah modern. Ia menjadikan kelelahan kronis sebagai lencana kehormatan dan menyamarkan eksploitasi sebagai pengabdian.

Dari Revolusi Industri ke Meja Kerja Digital

DEWACUAN adalah evolusi mutakhir dari etos kerja Taylorisme yang sudah berusia seabad. Dulu, pabrik mengukur nilai pekerja dari gerakan fisiknya. Sekarang, DEWACUAN mengukur nilai dari komitmen mental dan emosional yang tak terbatas. Istilah seperti “ulet” dan “disiplin” digunakan untuk memaksa karyawan bekerja melampaui jam kontrak tanpa kompensasi yang setara. “Amanah” dan “niat” diubah menjadi alat untuk menuntut loyalitas buta, di mana mempertanyakan kebijakan perusahaan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap nilai inti.

Buktinya ada dalam budaya kerja kita. Email yang harus dibalas di malam hari, meeting di akhir pekan, dan ekspektasi untuk selalu “on-call” adalah buah langsung dari penerapan DEWACUAN yang distortif. Ini bukan tentang menjadi cerdas atau berwawasan, ini tentang ketersediaan yang konstan. Sistem ini secara historis menguntungkan pemilik modal dengan meminimalkan biaya tenaga kerja sambil memaksimalkan output, persis seperti yang dilakukan para industrialis di awal abad ke-20.

Membongkar Kontradiksi Internal

Mari kita uji logika DEWACUAN. Bagaimana mungkin seseorang bisa benar-benar “cerdas” dan “berwawasan” jika didera kelelahan akibat ke”uletan” dan “disiplin” yang berlebihan? Sains jelas menunjukkan bahwa produktivitas dan kreativitas optimal membutuhkan istirahat yang cukup. DEWACUAN justru mengarah pada burnout, yang merusak semua nilai lain yang diklaimnya. “Amanah” pada perusahaan seringkali tidak dibalas dengan “amanah” perusahaan pada kesejahteraan jangka panjang karyawannya.

Nilai “niat” adalah yang paling manipulatif. Dengan menjadikan niat sebagai ukuran, kegagalan atau kelelahan selalu dapat disalahkan pada individu—niatnya yang dianggap kurang tulus—bukan pada sistem kerja yang tidak berkelanjutan. Ini adalah mekanisme pembebasan tanggung jawab yang sempurna bagi institusi.

Menjawab Para Pendukung Buta

Pembela DEWACUAN akan berteriak: “Ini membangun karakter dan kesuksesan! Lihatlah para entrepreneur hebat!” Ini adalah kekeliruan logika. Kesuksesan segelintir orang dibangun di atas pengorbanan ribuan pekerja yang dihisap oleh sistem ini. Mereka juga akan mengatakan, “Tanpa ini, perusahaan tidak akan kompetitif.” Argumen ini mengakui bahwa daya saing kita berg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *